3 Target Keberhasilan Anak

I. Memiliki Akhlaqul karimah

Menurut sabda Rasulullah Saw. (HR. Al-Hakam), bahwa termasuk akhlaq/budi pekerti/  thobiat  orang  iman itu adalah:

  1. 1. Quwwatan fii diinin. Kuat memegang teguh pendirian dan keyakinan tidak mudah

terpengaruh keadaan, dan tidak lemah karena cobaan/ujian

  1. 2. Wahazman fii liinin. Tegas dalam mengambil sikap, tetapi tetap berlapang dada

dan  mudah menerima nasehat/saran yang konstruktif (membangun).

  1. 3. Wa imanan fii yaqiin. Mantap dan yakin terhadap kebenaran yang diperjuangkan

dan tidak ragu-ragu dalam menunjukkan kebenaran.

  1. 4. Wa hirson fii “ilmin. Selalu ingin  bertambahnya ilmu sebagai modal pengetahuan dan kebenaran, tidak berhenti mencari ilmu selama hayat masih dikandung badan.
  2. 5. Wa syafaqotan fii miqotin. Selalu merasa khawatir dan takut jangan-jangan amal sholeh/baik yang telah dikerjakan belum cukup untuk bekal menghadap kehadirat Allah SWT, sehingga timbul semangat untuk beramal sholeh/baik terus.
  3. 6. Wa hilman fii “ilmin. Mempunyai sifat tekun, serta tidak mudah putus asa, hatinya sabar dan aris dalam menimba ilmu.
  4. 7. Wa qosdan fii ghinan. Mempunyai sifat sederhana dalam hidup, walaupun kaya tetapi tetap sederhana.
  5. 8. Wa tajammulan fii faqotin. Selalu menjaga kebersihan walaupun dalam keadaan miskin namun tetap menjaga harga dirinya dengan merias diri (berpenampilan bersih dan rapi).
  6. 9. Wa taharrujan ‘an thoma’. Merasa berdosa dari perbuatan tamak, bisa hidup sederhana dan qonaah terhadap pembagian rezeqi dari Allah.

10. Wa kasban fii halaalin. Dalam bekerja/ berusaha selalu memilih pekerjaan/ usaha yang halal.

11. Wa birran fii istiqomatin. Tetap istiqomah, rutin dan tekun dalam melakukan kebajikan.

12. Wa nasyathon fii hudan. Trampil dan semangat dalam perjuangan, dan tidak malas.

13. Wa nahyan ‘an syahwatin. Dapat mengendalikan diri, tidak selalu menuruti kesenangan/ hawa nafsu yang tidak bermanfaat.

14. Wa rahmatan lilmajhudi. Selalu memperhatikan dengan penuh kasih sayang terhadap orang yang berat menghadapi kehidupannya/ miskin.

15. Laa yahiifu ‘alaa man yubghidhu. Tidak menyimpang dari garis-garis kebenaran meskipun terhadap orang-orang yang selalu membuat dia marah dan geram.

16. Wa laa ya’tsamu fii man yuhibbu. Cintanya kepada seseorang tidak menjadikan dia melanggar larangan agama (berbuat dosa).

17. Wa laa yudhoyyi’u mastuudi’a. Tidak menyia-nyiakan titipan/kepercayaan yang diberikan kepadanya, kalau ada titipan/amanah akan segera disampaikan kepada yang berhak menerimanya.

18. Wa laa yahsudu wa laa yath’anu wa laa yal‘anu. Tidak mempunyai sifat dengki, tidak suka memnuduh jelek dan melaknat sesama  orang iman.

19. Waya’tarifu bilhaqqi wa illam yasy-had ‘alaihi. Mau mengakui kesalahan yang diperbuat walau tidak ada yang menyaksikan.

20. Wa laa tanabazu bil-alqob. Tidak memanggil saudaranya dengan pangilan yang menyakitkan hati.

21. fii sholaati mutakhosyi’an ilaa zakati musri’an. Selalu khusyu’ di dalam sholat, dan cepat-cepat memngeluarkan zakat ketika sampai nisobnya.

22. Filzalaazili waquuran. Tabah, sabar dan tahan uji.

23. Fii rakha-i syakuuran. Banyak bersyukur di waktu luang.

24. Qoni’am billadzi lahu laa yudda’i  maa laisa lahu. Hanya mau menerima yang menjadi miliknya dan tidak mengakui barang yang bukan miliknya.

25. Wa laa yajmi’u  filghoidh. Tidak menaruh dendam  dan menyimpannya menjadi permusuhan dan kerusakan  diantara orang iman.

26. Wa laa yaghlibuhu asysyuhu ‘an ma’ruf. Sifat kikir dan  bakhilnya tidak mencegah untuk berbuat kebaikan, walau berat  adanya.

27. Yuriduhu yukhalithunnasa kaiya’lama wayunathiquhum kaiyaf-hama. Mau bergaul dengan masyarakat umum dengan tidak membedakan suku, ras, agama dan golongan untuk mengerti keadaan dan berdialog pada mereka untuk memahami keadaan mereka.

28. Wa indhulima wabughiya ‘alaihi sobaro hatta yakuuna arrahmaanu  huwalladzi yantashiru lahu. Jika dianiaya dan dibuat sewenang-wenang atas dirinya tetap sabar sampai Allah Yang Maha Pemurah menolongnya.

II.  Faham Agama (faqihan fiddiin) dan Berilmu.

Target kedua dalam pembinaan generasi muda adalah berilmu dan faham  agama.        Penguasaan ilmu alquran dan hadits oleh generasi penerus ini sangat penting mengingat semakin ke depan ulama semakin langka, maka pewarisan ilmu kepada generasi muda termasuk bagian dari keberhasilan suatu alih generasi. Sabda Rasulullah Saw. yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan cara mencabutnya dari hambaNya, akan tetapi cara Allah mencabut ilmu itu dengan mewafatkan ulama’ sehingga ketika Allah tidak menyisakan seorang alimpun, kemudian manusia mengangkat pemimpin orang-orang yang bodoh.  Maka ketika mereka ditanya, mereka menjawab dengan tanpa dasar ilmu maka mereka itu sesat dan menyesatkan”. (HR.Albukhari)

Sebelum menjadi pemimpin sebaiknya banyak belajar ilmu, baik ilmu agama   maupun ilmu pengetahuan/sain. Umar bin Khotob berkata yang artinya:” Barang siapa yang dijadikan pemimpin (Umara’) oleh kaumnya atas dasar faham (faqihan fiddiin) maka akan hidup baginya dan kaumnya; dan barang siapa yang menjadikan pemimpin (umaro’) oleh kaumnya atas dasar selain faham maka akan rusak baginya dan kaumnya (HR. Addaromi) Hal ini diperkuat oleh Rasulullah Saw, dalam sabdanya;” Tafaqqohuu qobla antusawwaduu” yang artinya:” Usahakanlah menjadi orang yang faqih sebelum kalian dijadikan pemimpin.(HR. Albukhari)

III.  Memiliki Keterampilan untuk Hidup Mandiri.

Target ketiga ini untuk mengarahkan generasi muda dapat hidup mandiri, memiliki ketrampilan berupa kecakapan/ keahlian, pekerjaan/usaha  yang sesuai dengan minat, bakat dan kemampuannya.  Dengan ketrampilan yang mereka miliki, mereka akan lebih percaya diri dalam menapaki dunia usaha, sehingga usahanya bisa maju dan berkembang.

Keterampilan ini diperoleh dari pendidikan, oleh karena itu selagi masih muda usahakan menempuh pendidikan setinggi mungkin, usahakan menjadi siswa/mahasiswa yang teladan, mendapat ranking di sekolahnya, dan akan lebih baik lagi kalau bisa mendapatkan bea siswa,  sehingga dapat meringankan beban orang tuanya. Disamping pendidikan formal, memperoleh  keterampilan juga dapat ditempuh melalui kursus, pelatihan dan magang di perusahaan perusahaan.

Keberhasilan target ketiga ini juga diformulasikan untuk mengantisipasi meledaknya angkatan kerja  yang dari tahun ke tahun semakin meningkat.  Hal ini penting, mengingat pembinaan generasi muda secara umum merupakan persoalan yang dilematis, karena di satu sisi mereka adalah generasi harapan masa depan, tetapi di sisi lain, sebagai angkatan kerja yang perlu disikapi dengan bijak. Untuk mencapai target ini menjadi tanggung jawab kita bersama.

Di dalam hadits Rasulullah bersabda;” Ijmaluu fii tholabi addun-ya  fa-inna kullan muyassarra lima khuliqo lahu”. Artinya: Perbaikilah dalam mencari penghidupan dunia (yang halal), maka sesungguhnya tiap-tiap orang itu dimudahkan kepada apa yang diciptakan untuknya (HR.Ibnu Majah)
connection85

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s